Pernah nggak kamu membayangkan…
Berangkat dari Indonesia saat malam, lalu tiba di negara lain dan ternyata di sana masih siang?
Atau sebaliknya, baru beberapa jam berada di pesawat, tetapi tubuh sudah merasa seperti waktunya tidur?
Inilah salah satu pengalaman unik ketika traveling ke negara dengan perbedaan zona waktu yang jauh dari Indonesia.
Secara logika, kita mungkin berpikir sederhana.
“Ya tinggal lihat jam lokal.”
Ternyata tidak sesederhana itu.
Jam tangan memang bisa langsung mengikuti waktu setempat.
Tetapi tubuh kita tidak selalu bisa beradaptasi secepat itu.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai jet lag.
Dan kalau perbedaan waktunya cukup jauh, sensasinya bisa benar-benar terasa.
Bangun Tidur, Tapi Tubuh Merasa Masih Malam
Salah satu pengalaman paling aneh ketika mengalami jet lag adalah kebingungan antara waktu lokal dan “jam tubuh”.
Misalnya kamu tiba di sebuah negara dan waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Secara lokal, seharusnya sudah waktunya memulai aktivitas.
Tetapi tubuhmu justru merasa:
“Ini kan masih tengah malam?”
Akibatnya, kamu mungkin mengantuk di siang hari, sulit tidur ketika malam, atau terbangun terlalu pagi.
Tubuh seperti belum memahami bahwa kamu sudah berada di dunia yang berbeda.
Menurut CDC, jet lag terjadi ketika seseorang melakukan perjalanan cepat melintasi beberapa zona waktu sehingga ritme biologis tubuh tidak lagi selaras dengan waktu di lokasi baru.
Dan semakin banyak zona waktu yang dilintasi, semakin besar kemungkinan gejalanya terasa.
Kok Malam-Malam Malah Segar?
Ini juga salah satu bagian paling aneh.
Sudah pukul 23.00 waktu setempat.
Hotel sudah tenang.
Besok pagi harus bangun.
Tapi mata?
Malah melek.
Tubuhmu mungkin masih menganggap saat itu adalah waktu siang atau sore berdasarkan zona waktu asal.
Inilah mengapa beberapa traveler yang baru tiba di negara dengan perbedaan waktu besar bisa mengalami kesulitan tidur.
Bukan karena hotelnya tidak nyaman.
Bukan karena kasurnya kurang empuk.
Tetapi karena jam biologis tubuh belum menyesuaikan diri.
Lalu Siangnya Ngantuk Berat
Masalah berikutnya muncul keesokan harinya.
Kamu sudah membuat itinerary.
Pagi harus city tour.
Siang mengunjungi tempat wisata.
Sore shopping.
Malam kulineran.
Tapi sekitar pukul 13.00…
Kelopak mata mulai berat.
Padahal menurut tubuhmu mungkin sudah malam.
Di sinilah itinerary yang terlalu padat bisa menjadi masalah.
Karena hari pertama setelah perjalanan jauh sebaiknya tidak selalu dipenuhi aktivitas.
Tubuh juga butuh waktu untuk beradaptasi.
Bahkan Nafsu Makan Bisa Ikut Berubah
Jet lag bukan hanya masalah tidur.
Perubahan ritme tubuh juga bisa memengaruhi pola makan.
Kamu mungkin belum lapar ketika waktunya sarapan.
Kemudian tiba-tiba lapar tengah malam.
Atau merasa ingin makan pada waktu yang sebenarnya belum waktunya makan menurut jadwal lokal.
Akhirnya traveler bisa mengalami situasi lucu:
Restoran sudah tutup…
Tapi perut baru mulai lapar.
Makanya, ketika traveling lintas zona waktu, jangan hanya mengatur itinerary.
Atur juga ekspektasi terhadap tubuh sendiri.
Perjalanan Pulang Bisa Sama Menantangnya
Yang sering dilupakan adalah…
Jet lag bukan hanya terjadi saat berangkat.
Perjalanan pulang juga bisa membuat tubuh kembali kebingungan.
Setelah beberapa hari atau minggu berhasil mengikuti waktu lokal, tubuh sudah mulai terbiasa.
Kemudian kamu kembali ke Indonesia.
Dan…
Jam tubuh harus beradaptasi lagi.
Itulah sebabnya setelah pulang liburan, ada orang yang justru merasa sangat mengantuk pada siang hari atau sulit tidur pada malam pertama.
Tubuh seperti berkata:
“Lho, kita pindah zona waktu lagi?”
Bagaimana Agar Jet Lag Tidak Terlalu Mengganggu?
Tidak ada cara instan yang menjamin jet lag hilang seketika.
Tetapi ada beberapa kebiasaan yang bisa membantu tubuh beradaptasi.
1. Mulai Menyesuaikan Jadwal Tidur
Kalau punya waktu sebelum keberangkatan, kamu bisa secara bertahap menggeser waktu tidur dan bangun mendekati jadwal negara tujuan.
Tujuannya sederhana:
Jangan membuat tubuh kaget ketika tiba.
2. Gunakan Waktu Lokal Sejak Tiba
Begitu sampai, mulai biasakan diri mengikuti waktu setempat.
Kalau sudah pagi, usahakan beraktivitas sesuai pagi.
Kalau sudah malam, mulai bersiap untuk tidur.
CDC merekomendasikan penyesuaian terhadap jadwal tidur dan paparan cahaya berdasarkan arah perjalanan serta jumlah zona waktu yang dilintasi.
3. Jangan Langsung Membuat Itinerary Gila-Gilaan
Ini kesalahan yang cukup sering terjadi.
Baru tiba pukul 07.00 pagi…
Langsung:
08.00 sarapan.
09.00 city tour.
12.00 makan siang.
13.00 museum.
15.00 shopping.
18.00 sunset.
20.00 dinner.
22.00 kembali hotel.
Padahal tubuh masih sibuk memahami:
“Kita sebenarnya sekarang jam berapa?”
Untuk perjalanan dengan perbedaan waktu yang ekstrem, hari pertama bisa dibuat lebih ringan.
4. Manfaatkan Cahaya Matahari
Cahaya merupakan salah satu faktor penting yang membantu tubuh mengatur ritme sirkadian.
Karena itu, mengatur waktu terkena cahaya di destinasi tujuan bisa membantu proses adaptasi.
Tetapi waktunya perlu disesuaikan dengan arah perjalanan dan zona waktu yang dilalui.
Jadi jangan sekadar berpikir:
“Pokoknya harus banyak kena matahari.”
Waktu paparan cahaya juga penting.
5. Tetap Terhidrasi
Perjalanan udara yang panjang bisa membuat tubuh terasa kurang nyaman.
Minum cukup air selama perjalanan dan setelah tiba dapat membantu menjaga kondisi tubuh.
Tetapi jangan menganggap air putih sebagai obat jet lag.
Hidrasi membantu perjalanan terasa lebih nyaman, bukan menghapus jet lag secara instan.
Jadi, Seperti Apa Rasanya?
Kalau dirangkum…
Traveling ke negara dengan perbedaan zona waktu jauh itu seperti:
Jam tanganmu sudah tiba.
Tubuhmu belum.
Kamu sudah berada di negara baru.
Sudah melihat pemandangan baru.
Sudah menginjakkan kaki di tempat yang selama ini ada di wishlist.
Tetapi otakmu masih sibuk beradaptasi dengan pertanyaan sederhana:
“Sekarang sebenarnya waktunya tidur atau makan?”
Dan justru di situlah salah satu pengalaman unik traveling lintas benua.
Kita jadi sadar bahwa tubuh manusia punya “jam” sendiri.
Jam yang tidak selalu langsung mengikuti angka di layar HP.
Jadi kalau suatu hari kamu traveling jauh dari Indonesia dan hari pertama terasa sedikit aneh…
Jangan panik.
Mungkin kamu bukan malas jalan-jalan.
Bukan juga kurang tidur semata.
Tubuhmu hanya sedang mengejar waktu.
Dan setelah beberapa waktu…
Tubuh akan mulai berkata:
“Oke, sekarang kita sudah sampai.”