logo Asfatour Travel

Jangan Asal Makan! 7 Etika Kuliner yang Wajib Diketahui Sebelum ke Luar Negeri

4 views

Jangan Asal Makan! 7 Etika Kuliner yang Wajib Diketahui Sebelum ke Luar Negeri

Traveling ke luar negeri memang menyenangkan.

Bisa mencoba makanan yang belum pernah ditemukan di Indonesia, mengunjungi restoran lokal, berburu street food, sampai menikmati kuliner khas yang selama ini hanya terlihat di media sosial.

Tapi ada satu hal yang sering dilupakan traveler:

Cara makan di setiap negara belum tentu sama.

Apa yang dianggap biasa di Indonesia bisa saja dianggap kurang sopan di negara lain.

Begitu juga sebaliknya.

Bahkan hal sesederhana memegang sumpit, memanggil pelayan, atau menentukan siapa yang mulai makan terlebih dahulu bisa memiliki aturan tersendiri.

Bukan berarti kamu harus menghafal semua budaya makan di dunia.

Tetapi setidaknya, sebelum berangkat, ada beberapa etika dasar yang sebaiknya diketahui.

Berikut 7 di antaranya.

1. Jangan Langsung Pegang Sumpit Sembarangan di Jepang

Kalau ke Jepang, sumpit hampir pasti akan menjadi bagian dari pengalaman kuliner.

Tapi hati-hati.

Ada beberapa kebiasaan menggunakan sumpit yang dianggap tidak sopan.

Salah satunya adalah menusukkan sumpit secara tegak ke dalam semangkuk nasi.

Hal tersebut berkaitan dengan ritual pemakaman Jepang, sehingga sebaiknya dihindari ketika makan.

Menunjuk orang atau makanan menggunakan sumpit juga sebaiknya tidak dilakukan.

Begitu pula memindahkan makanan dari sumpit ke sumpit orang lain.

Jadi kalau sedang makan di Jepang, cukup gunakan sumpit sebagaimana mestinya.

Dan kalau bingung…

Perhatikan saja cara orang lokal menggunakannya.

Kadang mengamati jauh lebih aman daripada asal mencoba.

2. Jangan Kaget Kalau Porsi Makan di Korea Disajikan Bersamaan

Makan di Korea Selatan bisa memberikan pengalaman yang berbeda.

Satu meja bisa dipenuhi berbagai lauk pendamping atau banchan.

Kimchi, sayuran, sup, daging, dan berbagai hidangan lainnya bisa hadir bersamaan.

Yang perlu diperhatikan adalah etika makan dalam konteks sosial.

Dalam budaya tradisional Korea, menghormati orang yang lebih tua masih menjadi bagian penting dalam berbagai situasi, termasuk ketika makan bersama.

Misalnya, orang yang lebih muda biasanya menunggu orang yang lebih tua mulai makan terlebih dahulu.

Selain itu, ketika makan bersama, penggunaan alat makan juga memiliki etika tertentu.

Intinya sederhana:

Jangan terburu-buru. Perhatikan orang di meja.

Karena makan di Korea bukan hanya soal makanan.

Ada unsur kebersamaan dan penghormatan di dalamnya.

3. Jangan Sembarangan Memberi Tip

Kalau terbiasa dengan budaya tipping di negara tertentu, jangan langsung berasumsi semua negara memiliki kebiasaan yang sama.

Di beberapa negara, tip memang umum.

Di negara lain, tip tidak menjadi kebiasaan utama atau bahkan bisa terasa tidak diperlukan dalam situasi tertentu.

Jepang adalah contoh yang sering membuat traveler bingung.

Memberikan tip secara langsung bukan merupakan kebiasaan umum di Jepang dan dalam banyak situasi justru tidak diperlukan.

Jadi jangan sampai kamu merasa:

“Kalau tidak kasih tip berarti kurang sopan.”

Belum tentu.

Sebelum pergi, cari tahu dulu bagaimana budaya tipping di negara tujuan.

Karena sopan santun juga berarti mengikuti kebiasaan setempat.

4. Jangan Asal Duduk di Restoran

Ini terdengar sepele.

Tapi di beberapa restoran, terutama restoran yang menerapkan sistem seating tertentu, pelanggan tidak selalu bebas memilih tempat duduk.

Ada yang harus menunggu diarahkan oleh staf.

Ada restoran yang menggunakan sistem reservasi.

Ada pula tempat makan yang memiliki aturan berbeda untuk kelompok kecil dan besar.

Jadi ketika masuk restoran di luar negeri, jangan langsung melihat meja kosong lalu duduk.

Lebih aman:

Tunggu sebentar.

Lihat apakah ada staf yang menyambut.

Kalau perlu, tanyakan:

“Table for two?”

Atau tunjukkan reservasi jika memang sudah melakukan booking.

Satu kebiasaan sederhana ini bisa menghindarkanmu dari situasi canggung.

5. Jangan Menganggap Semua Negara Boleh Makan Sambil Jalan

Street food memang salah satu daya tarik traveling.

Bayangkan membeli makanan di pasar malam Bangkok, Seoul, Taipei, atau kota lainnya lalu langsung menikmatinya sambil berjalan.

Tetapi jangan menganggap kebiasaan itu berlaku di semua tempat.

Ada kota atau kawasan yang lebih terbiasa menikmati makanan di tempat yang telah disediakan.

Bahkan beberapa destinasi memiliki aturan khusus mengenai makan dan minum di area tertentu.

Karena itu, lihat sekeliling.

Kalau semua orang berhenti dan makan di tempat…

Ikuti kebiasaan mereka.

Kalau orang-orang berjalan sambil membawa makanan…

Kemungkinan besar kebiasaan tersebut lebih diterima.

Traveler yang baik bukan yang paling tahu semua aturan.

Tetapi yang mau memperhatikan lingkungan.

6. Jangan Langsung Bilang “Tidak Enak”

Ini salah satu etika yang paling sederhana tetapi sering terlupakan.

Kamu mencoba makanan lokal.

Ternyata rasanya tidak cocok.

Terlalu pedas.

Terlalu asin.

Terlalu asam.

Atau teksturnya benar-benar berbeda dari yang biasa kamu makan.

Tidak masalah.

Selera setiap orang memang berbeda.

Tetapi sebaiknya jangan langsung mengatakan:

“Ih, makanan di sini nggak enak.”

Apalagi di depan orang lokal yang sedang menikmati makanan tersebut.

Lebih baik mengatakan:

“Rasanya berbeda dengan makanan yang biasa saya makan.”

Karena tujuan traveling bukan mencari makanan yang semuanya sesuai dengan lidah kita.

Justru salah satu keseruannya adalah mencoba sesuatu yang baru.

7. Pelajari Sedikit Bahasa Lokal

Kamu tidak harus fasih bahasa negara tujuan.

Tetapi mengetahui beberapa kata sederhana bisa membuat pengalaman kuliner jauh lebih menyenangkan.

Misalnya:

“Terima kasih.”

“Permisi.”

“Maaf.”

“Atau…”

“Enak!”

Satu kata sederhana dalam bahasa lokal bisa membuat interaksi dengan penjual atau pelayan terasa lebih hangat.

Selain itu, belajar beberapa kata dasar juga menunjukkan bahwa kamu menghargai budaya setempat.

Tidak perlu sempurna.

Yang penting berani mencoba.

Dan kalau pengucapannya salah?

Justru bisa menjadi cerita lucu selama perjalanan.

Bonus: Jangan Lupa Cari Tahu Soal Makanan Halal

Bagi traveler Muslim, satu hal yang tidak boleh dilewatkan tentu saja adalah memastikan makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan halal.

Jangan hanya mengandalkan tulisan:

“No pork.”

Karena makanan yang bebas babi belum tentu otomatis halal.

Perhatikan juga kemungkinan penggunaan alkohol, bahan turunan hewan, serta cara pengolahannya.

Di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, mencari restoran halal membutuhkan sedikit riset tambahan.

Kamu bisa mencari restoran bersertifikat halal, restoran Muslim, atau bertanya secara langsung mengenai bahan makanan.

Lebih baik sedikit repot sebelum makan daripada baru bertanya setelah makanan sudah tersaji.

Kenapa Etika Makan Penting Saat Traveling?

Karena ketika berada di luar negeri, kita bukan hanya membawa koper.

Kita juga membawa identitas sebagai wisatawan Indonesia.

Hal kecil seperti antre dengan tertib, menghormati staf restoran, tidak membuang makanan sembarangan, mengikuti aturan lokal, dan menghargai kebiasaan masyarakat setempat sebenarnya bisa memberikan kesan yang sangat baik.

Kita tidak harus memahami seluruh budaya sebuah negara.

Tetapi kita bisa menunjukkan satu hal:

Kita datang untuk menikmati, bukan untuk merasa paling benar.

Dan justru di situlah salah satu keindahan traveling.

Kita mencoba makanan baru.

Belajar kebiasaan baru.

Menemukan perbedaan.

Kemudian pulang dengan pemahaman bahwa dunia ternyata memiliki begitu banyak cara untuk menikmati makanan.

Jadi sebelum pergi ke luar negeri…

Jangan cuma cari:

“Makanan enak apa yang harus dicoba?”

Cari juga:

“Etika makannya seperti apa?”

Karena bisa jadi…

Satu kebiasaan kecil yang kamu pelajari hari ini bisa menyelamatkanmu dari momen malu saat traveling nanti.

[artikel lainnya]
hubungi kami!