Traveling ke luar negeri untuk pertama kali biasanya penuh ekspektasi.
Sudah melihat foto-fotonya.
Sudah menonton vlog orang lain.
Sudah menyusun itinerary.
Bahkan mungkin sudah membayangkan makanan apa yang ingin dicoba.
Tapi ketika akhirnya sampai…
“Lho, ternyata begini?”
Bukan karena kotanya mengecewakan.
Justru karena ada banyak hal kecil yang ternyata sangat berbeda dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Mulai dari transportasi, kebiasaan masyarakat, harga makanan, sampai suasana jalanan.
Berikut 5 kota yang cukup sering membuat traveler Indonesia kaget ketika pertama kali datang.
1. Tokyo, Jepang — “Kok Kotanya Bisa Serapi Ini?”
Tokyo adalah kota yang sangat besar.
Jutaan orang beraktivitas setiap hari.
Kereta penuh.
Jalanan ramai.
Gedung tinggi di mana-mana.
Tetapi yang sering membuat traveler Indonesia terkejut adalah bagaimana semuanya tetap terlihat begitu teratur.
Antrean.
Transportasi.
Penyeberangan jalan.
Kebersihan ruang publik.
Bahkan orang berjalan di trotoar pun punya ritmenya sendiri.
Hal lain yang mungkin membuat first-time traveler kaget adalah sistem transportasinya.
Tokyo memiliki jaringan kereta yang sangat luas sehingga awalnya bisa terasa membingungkan.
Nama stasiun banyak.
Jalur banyak.
Pintu keluar stasiun bisa sangat banyak.
Salah keluar sedikit saja…
Tiba-tiba sudah berada di sisi kota yang berbeda.
Tetapi setelah mulai memahami sistemnya, justru di situlah keseruannya.
Dan ada satu hal yang biasanya baru terasa setelah beberapa hari:
Tokyo itu besar sekali.
Jangan mengira satu hari cukup untuk menjelajahi banyak kawasan.
2. Seoul, Korea Selatan — “Ternyata Naik Subway Bisa Seseru Ini”
Bagi traveler Indonesia yang terbiasa menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi online, pengalaman menggunakan subway di Seoul bisa menjadi kejutan tersendiri.
Stasiunnya besar.
Jalurnya banyak.
Perpindahan antarlini bisa membutuhkan jalan kaki cukup jauh.
Tetapi sistemnya memungkinkan wisatawan berpindah dari satu bagian kota ke bagian lainnya dengan sangat efisien.
Yang juga menarik adalah perbedaan suasana antar kawasan.
Pagi bisa berada di kawasan tradisional.
Siang menikmati kafe dan shopping.
Sore berpindah ke kawasan modern.
Malam melihat Seoul yang dipenuhi lampu.
Dalam satu hari, karakter kotanya bisa terasa berubah-ubah.
Dan jangan kaget kalau itinerary yang terlihat sederhana di Google Maps ternyata membutuhkan waktu lebih lama karena jalan kaki di dalam stasiun.
Jadi saat traveling ke Seoul…
Jangan cuma hitung jarak. Hitung juga langkah kaki.
3. Singapore — “Kok Semuanya Terasa Mahal?”
Singapore mungkin menjadi salah satu negara yang paling mudah dikunjungi dari Indonesia.
Penerbangan relatif singkat.
Transportasinya nyaman.
Bahasa Inggris cukup umum digunakan.
Tetapi satu hal yang sering membuat traveler Indonesia terkejut adalah:
Harga.
Makan.
Hotel.
Kopi.
Aktivitas wisata.
Bahkan beberapa kebutuhan kecil bisa terasa lebih mahal dibandingkan Indonesia.
Namun di sisi lain, Singapore juga memiliki banyak pengalaman yang bisa dinikmati tanpa harus selalu mengeluarkan uang besar.
Jalan-jalan di kawasan kota.
Menikmati ruang publik.
Mengunjungi beberapa taman.
Berfoto di area ikonik.
Menggunakan MRT untuk berkeliling.
Jadi masalahnya bukan Singapore harus mahal.
Tetapi kamu harus tahu mana yang perlu dibayar dan mana yang bisa dinikmati secara gratis.
Dan satu lagi yang sering membuat traveler kagum:
Kotanya kecil, tetapi terasa sangat tertata.
4. Dubai, Uni Emirat Arab — “Ternyata Semewah Ini?”
Kalau selama ini hanya melihat Dubai dari media sosial, mungkin kamu sudah tahu bahwa kota ini identik dengan gedung tinggi, pusat perbelanjaan besar, mobil mewah, dan berbagai proyek arsitektur spektakuler.
Tetapi melihatnya secara langsung memberikan sensasi berbeda.
Burj Khalifa yang selama ini terlihat seperti gambar di internet…
Ketika berdiri di bawahnya, skalanya terasa jauh lebih besar.
Mall-nya bukan sekadar tempat belanja.
Beberapa bahkan terasa seperti sebuah kawasan wisata tersendiri.
Dan satu hal lain yang mungkin mengejutkan traveler Indonesia:
Panasnya.
Terutama jika datang pada periode musim panas.
Keluar dari ruangan ber-AC ke luar gedung bisa langsung terasa seperti masuk ke ruangan dengan suhu berbeda jauh.
Karena itu, perjalanan di Dubai membutuhkan strategi.
Aktivitas outdoor sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Sedangkan siang hari bisa dimanfaatkan untuk aktivitas indoor.
Dan jangan lupa…
Dubai bukan hanya soal kemewahan.
Kawasan seperti Al Fahidi Historical Neighbourhood dan berbagai souk menunjukkan sisi Dubai yang jauh lebih tradisional.
Di situlah kamu bisa melihat dua wajah Dubai sekaligus: modern dan tradisional.
5. Paris, Prancis — “Ternyata Tidak Seperti di Film”
Paris mungkin adalah salah satu kota yang paling sering kita lihat di film, Instagram, atau video traveling.
Menara Eiffel.
Kafe kecil.
Jalanan cantik.
Bangunan klasik.
Suasana romantis.
Tetapi ketika pertama kali datang, traveler Indonesia mungkin justru menemukan sesuatu yang berbeda dari bayangan.
Paris adalah kota besar yang benar-benar hidup.
Ada kawasan yang sangat ramai.
Ada turis di mana-mana.
Ada antrean panjang.
Ada orang yang terburu-buru pergi bekerja.
Dan tentu saja, seperti kota besar lainnya, ada hal-hal yang harus diperhatikan terkait barang bawaan dan lingkungan sekitar.
Tetapi justru itulah Paris yang sebenarnya.
Bukan hanya kota romantis seperti yang terlihat di film.
Melainkan kota yang memiliki sejarah panjang, kehidupan modern, seni, kuliner, fashion, dan masyarakat yang sangat beragam.
Dan ketika akhirnya melihat Menara Eiffel secara langsung…
Biasanya tetap ada satu momen:
“Oh… ternyata aku benar-benar di Paris.”
Kenapa Traveler Bisa Kaget Saat Pertama Kali Datang?
Karena kita sering traveling membawa versi sebuah kota yang ada di kepala kita.
Kita melihat foto.
Menonton video.
Membaca review.
Kemudian membangun ekspektasi.
Padahal kota yang sebenarnya selalu lebih kompleks.
Tokyo bukan cuma tentang anime dan sakura.
Seoul bukan cuma tentang K-pop.
Singapore bukan cuma tentang Marina Bay.
Dubai bukan cuma tentang gedung mewah.
Paris bukan cuma tentang Menara Eiffel.
Setiap kota punya sisi lain yang baru bisa benar-benar dirasakan ketika kita datang langsung.
Dan mungkin…
itulah salah satu alasan traveling begitu menarik.
Kita datang dengan ekspektasi.
Kemudian pulang membawa cerita yang ternyata jauh lebih berbeda.
Hal yang Membuat Traveling Jadi Berkesan
Kadang pengalaman paling berkesan bukan ketika semuanya berjalan sesuai itinerary.
Justru ketika kita mengalami sesuatu yang tidak pernah direncanakan.
Salah naik kereta.
Salah keluar stasiun.
Tidak sengaja menemukan restoran kecil.
Bingung membaca papan petunjuk.
Mencoba makanan yang belum pernah dikenal.
Atau sekadar duduk memperhatikan orang lokal menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena traveling bukan hanya tentang mengunjungi tempat.
Tetapi tentang mengalami sesuatu yang berbeda dari kehidupan kita sehari-hari.
Jadi kalau suatu hari kamu pertama kali datang ke Tokyo, Seoul, Singapore, Dubai, atau Paris…
Jangan takut kalau ada hal yang membuatmu kaget.
Justru nikmati.
Karena beberapa tahun kemudian, mungkin hal yang paling kamu ingat bukan tempat wisatanya.
Tetapi saat kamu berkata:
“Waktu pertama kali sampai sana, aku benar-benar kaget…”
Dan dari situlah sebuah perjalanan berubah menjadi cerita.