Saat traveling ke luar negeri, biasanya yang kita cari adalah pemandangan.
Gunung.
Pantai.
Gedung ikonik.
Kota tua.
Atau tempat wisata yang selama ini cuma kita lihat lewat Instagram.
Tapi setelah sampai di sana, ternyata ada hal lain yang tidak kalah menarik.
Kebiasaan masyarakat lokal.
Hal-hal sederhana yang bagi warga setempat terasa biasa saja, justru bisa membuat turis melongo.
Cara mereka antre.
Cara menggunakan transportasi umum.
Kebiasaan makan.
Cara menikmati waktu luang.
Bahkan cara mereka memperlakukan ruang publik.
Dan menariknya, kebiasaan seperti inilah yang sering membuat perjalanan terasa lebih berkesan.
Berikut beberapa negara dengan kebiasaan masyarakat yang mungkin membuat traveler Indonesia berkata:
“Ternyata di sini begini, ya?”
1. Jepang — Antre Itu Serius
Salah satu hal yang sering membuat wisatawan kagum ketika berada di Jepang adalah budaya antre.
Di stasiun, restoran, tempat wisata, bahkan ketika menunggu kereta, masyarakat terbiasa mengikuti aturan antre yang cukup tertib.
Jepang juga terkenal dengan etika menggunakan transportasi umum.
Berbicara dengan suara keras di dalam kereta biasanya dianggap mengganggu penumpang lain.
Bahkan terdapat panduan resmi bagi wisatawan mengenai etika menggunakan kereta dan transportasi umum di Jepang.
Bagi traveler Indonesia yang terbiasa dengan suasana transportasi yang lebih ramai…
Pengalaman ini bisa terasa berbeda.
Yang lebih menarik adalah ketika semua orang tetap bisa bergerak cepat tanpa harus saling menyerobot.
Mungkin dari sini kita belajar:
Tertib tidak selalu berarti lambat.
2. Korea Selatan — Makan Bisa Jadi Aktivitas Sosial
Di Korea Selatan, makanan bukan hanya soal mengisi perut.
Makan bersama bisa menjadi bagian penting dari kehidupan sosial.
Datang ke restoran Korea juga bisa memberikan pengalaman berbeda.
Satu meja bisa dipenuhi berbagai banchan.
Kimchi.
Sayuran.
Sup.
Daging.
Dan berbagai lauk pendamping lainnya.
Yang menarik, budaya makan Korea juga memiliki aturan dan kebiasaan tertentu, terutama terkait hubungan antara yang lebih muda dan lebih tua.
Misalnya, dalam konteks tradisional, orang yang lebih muda biasanya menunggu orang yang lebih tua mulai makan terlebih dahulu.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana.
Tetapi ketika mengalaminya langsung…
Kita mulai menyadari bahwa makanan ternyata bisa menjadi cermin budaya.
3. Singapore — Ruang Publik Dijaga Bersama
Singapore mungkin terkenal karena gedung modern, Marina Bay, dan pusat perbelanjaannya.
Tetapi salah satu hal yang sering membuat turis kagum adalah bagaimana ruang publiknya dikelola.
Transportasi umum, taman, pedestrian, dan berbagai fasilitas kota dirancang agar dapat digunakan dengan nyaman oleh masyarakat.
Singapore juga memiliki aturan yang cukup ketat mengenai berbagai aktivitas di ruang publik.
Bagi wisatawan, hal ini bisa terasa berbeda.
Karena traveling bukan hanya soal mengetahui ke mana harus pergi, tetapi juga memahami apa yang sebaiknya tidak dilakukan.
Jadi sebelum traveling ke suatu negara…
Jangan hanya mencari:
“Tempat wisata terbaik.”
Cari juga:
“Aturan dan kebiasaan lokalnya apa?”
Bisa jadi informasi kedua justru lebih menyelamatkan perjalananmu.
4. Swiss — Tepat Waktu Bukan Sekadar Sopan Santun
Ada alasan mengapa Swiss sering diasosiasikan dengan ketepatan waktu.
Khususnya dalam sistem transportasi.
Kereta api Swiss terkenal dengan jadwal yang terstruktur dan sistem transportasi yang terintegrasi.
Bagi traveler Indonesia, pengalaman menggunakan kereta di Swiss bisa memberikan pelajaran sederhana:
Jangan datang ketika keretanya sudah datang.
Datanglah sebelum jadwal.
Karena kalau kamu terlambat beberapa menit…
Bisa jadi keretanya sudah pergi.
Dan ini bukan cuma soal kereta.
Ketepatan waktu juga menjadi bagian dari budaya profesional dan kehidupan sehari-hari di banyak negara Eropa.
Akhirnya kita sadar:
Kalau di itinerary tertulis pukul 09.00…
09.00 ya 09.00.
Bukan 09.30.
Bukan “sebentar lagi”.
5. Jerman — Aturan Kecil Benar-Benar Diperhatikan
Jerman punya reputasi sebagai negara yang sangat menghargai aturan.
Salah satu contohnya bisa terlihat dari kehidupan sehari-hari.
Menyeberang jalan ketika lampu pejalan kaki masih merah?
Sebaiknya jangan.
Membuang sampah sembarangan?
Jangan.
Menggunakan fasilitas umum?
Ikuti aturan.
Bahkan pemilahan sampah menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan limbah di Jerman.
Bagi traveler, kebiasaan seperti ini mungkin awalnya terasa terlalu disiplin.
Tetapi setelah beberapa hari…
Kita mungkin mulai memahami alasan di baliknya.
Karena ketika sebagian besar orang melakukan hal yang sama…
kota menjadi lebih mudah diatur.
6. Belanda — Sepeda Bukan Sekadar Kendaraan Wisata
Datang ke Amsterdam lalu melihat orang bersepeda mungkin bukan sesuatu yang mengejutkan.
Tetapi setelah beberapa saat…
Kamu akan sadar:
“Oh, ternyata sepeda di sini benar-benar bagian dari kehidupan.”
Bukan sekadar aktivitas olahraga.
Bukan cuma untuk turis.
Banyak warga menggunakannya untuk pergi bekerja, berbelanja, mengantar anak, dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Amsterdam bahkan memiliki jaringan infrastruktur sepeda yang sangat luas dan sepeda menjadi salah satu moda transportasi utama kota.
Bagi traveler, ini juga menjadi pengingat penting:
Kalau sedang berjalan kaki di kota yang budaya bersepedanya kuat…
Jangan asal berdiri di jalur sepeda.
Bisa-bisa kamu justru membuat warga lokal melongo melihat tingkah turis.
7. Finlandia — Sauna Bukan Sekadar Spa
Kalau mendengar kata sauna, mungkin sebagian orang Indonesia langsung membayangkan fasilitas tambahan di hotel atau pusat kebugaran.
Tetapi di Finlandia, sauna memiliki posisi yang jauh lebih dalam dalam kehidupan masyarakat.
Sauna merupakan bagian penting dari budaya Finlandia dan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Bagi masyarakat Finlandia, sauna bukan hanya tentang berkeringat.
Ada unsur relaksasi, kebersamaan, dan tradisi.
Jadi kalau suatu hari berkunjung ke Finlandia…
Jangan heran kalau ada orang lokal yang mengajak bicara tentang sauna seolah-olah sedang membicarakan aktivitas sehari-hari yang sangat biasa.
Karena memang begitu.
Sauna adalah bagian dari kehidupan.
Ternyata Traveling Bukan Cuma Soal Tempat
Ada satu hal yang sering kita lupakan ketika membuat itinerary.
Kita sibuk mencatat:
09.00 — tempat A
11.00 — tempat B
14.00 — tempat C
17.00 — tempat D
Padahal ada pengalaman lain yang tidak bisa dimasukkan ke itinerary.
Melihat orang lokal bekerja.
Memperhatikan cara mereka menggunakan transportasi.
Mendengar bahasa mereka.
Melihat cara mereka makan.
Mengamati bagaimana mereka memperlakukan ruang publik.
Itulah pengalaman yang sering membuat kita benar-benar merasa sedang berada di negara lain.
Karena kalau hanya mengunjungi tempat wisata…
kita mungkin hanya melihat negaranya.
Tetapi ketika memperhatikan kehidupan masyarakatnya…
kita mulai mengenal negaranya.
Jangan Takut Mengalami Culture Shock
Culture shock kecil sebenarnya adalah bagian menyenangkan dari traveling.
Kita mungkin menemukan sesuatu yang berbeda.
Awalnya bingung.
Kemudian penasaran.
Lalu mencoba memahami.
Dan akhirnya pulang membawa perspektif baru.
Yang penting, jangan langsung menganggap:
“Kebiasaan mereka aneh.”
Cobalah menggantinya dengan:
“Kenapa mereka terbiasa seperti ini?”
Karena bisa jadi, kebiasaan yang menurut kita aneh justru punya alasan sejarah, budaya, atau sosial yang panjang.
Dan sebaliknya…
Bisa jadi kebiasaan kita sendiri juga terlihat unik ketika dilihat oleh orang dari negara lain.
Itulah indahnya traveling.
Kita pergi bukan untuk mencari negara mana yang paling benar.
Kita pergi untuk menyadari bahwa…
Cara hidup manusia ternyata tidak cuma satu.
Dan mungkin itulah oleh-oleh paling berharga dari sebuah perjalanan.
Bukan magnet kulkas.
Bukan foto ribuan file.
Tetapi pulang dengan pikiran yang sedikit lebih terbuka.