logo Asfatour Travel

Kuliner Jalanan yang Rela Diburu Wisatawan dari Berbagai Negara

4 views

Kuliner Jalanan yang Rela Diburu Wisatawan dari Berbagai Negara

Ada makanan yang cukup dicoba ketika kebetulan sedang berada di sebuah kota.

Namun, ada juga makanan yang membuat traveler sengaja mencari lokasinya.

Bahkan rela antre.

Berjalan jauh.

Naik transportasi umum.

Atau menyusun itinerary khusus hanya untuk satu tujuan:

mencicipi street food yang terkenal.

Menariknya, pengalaman berburu kuliner jalanan sering kali menjadi bagian paling berkesan dari sebuah perjalanan.

Bukan hanya karena rasanya.

Tetapi karena ada cerita di baliknya.

Warung kecil yang sudah puluhan tahun berdiri.

Pedagang yang masih menggunakan resep keluarga.

Pasar yang ramai sejak pagi.

Atau sebuah gerobak sederhana yang ternyata sudah terkenal hingga mancanegara.

Berikut beberapa kuliner jalanan yang membuat traveler dari berbagai negara rela datang dan berburu langsung ke tempat asalnya.

1. Takoyaki – Osaka, Jepang

Berbicara tentang street food Jepang, takoyaki hampir selalu masuk dalam daftar.

Bola-bola adonan yang dimasak hingga bagian luarnya sedikit renyah dan bagian dalamnya lembut ini biasanya berisi potongan gurita.

Disajikan panas dengan saus khas, mayones, dan taburan lainnya.

Yang membuat pengalaman makan takoyaki di Osaka terasa berbeda adalah suasananya.

Kamu bisa melihat langsung proses pembuatannya.

Adonan dituangkan.

Potongan gurita dimasukkan.

Kemudian bola-bola takoyaki diputar dengan cepat hingga matang sempurna.

Sederhana, tetapi menarik untuk dilihat.

Bagi banyak traveler, menikmati takoyaki langsung di Osaka bukan sekadar makan.

Ini adalah bagian dari pengalaman menjelajahi kota.

2. Bánh Mì – Vietnam

Bánh mì mungkin terlihat sederhana.

Roti.

Daging.

Sayuran.

Saus.

Namun, kombinasi tersebut menghasilkan salah satu street food paling populer di Vietnam.

Salah satu hal menarik dari bánh mì adalah setiap penjual bisa memiliki karakter rasa yang berbeda.

Ada yang lebih dominan gurih.

Ada yang menggunakan daging panggang.

Ada yang memiliki saus khas.

Dan ada juga yang menambahkan berbagai jenis sayuran segar.

Traveler bisa menemukan bánh mì dengan mudah di berbagai sudut kota.

Tidak perlu restoran mewah.

Cukup berhenti di sebuah kedai kecil atau gerobak lokal.

Justru kesederhanaan itulah yang menjadi daya tariknya.

3. Pad Thai – Thailand

Pad Thai adalah salah satu makanan yang sering menjadi alasan traveler ingin kembali ke Thailand.

Mi yang ditumis dengan bumbu khas, kemudian dipadukan dengan berbagai bahan seperti telur, tahu, udang, tauge, dan pelengkap lainnya.

Rasanya kompleks.

Ada manis.

Asam.

Gurih.

Dan sedikit pedas.

Menariknya, menikmati Pad Thai di Thailand memberikan pengalaman yang berbeda.

Apalagi ketika disantap di tengah suasana pasar malam atau kawasan street food.

Kamu bukan hanya menikmati makanan.

Tetapi juga merasakan atmosfer kota.

Suara pedagang.

Aroma masakan.

Orang-orang yang berlalu-lalang.

Dan suasana malam yang ramai.

Inilah yang membuat kuliner jalanan sering terasa lebih berkesan ketika dinikmati langsung di negara asalnya.

4. Satay – Malaysia

Sate atau satay merupakan salah satu kuliner yang sangat populer di Asia Tenggara.

Di Malaysia, hidangan ini bisa ditemukan dalam berbagai versi dan biasanya disajikan dengan saus kacang serta pelengkap lainnya.

Aroma daging yang dibakar langsung di atas arang menjadi salah satu daya tariknya.

Saat berjalan melewati kawasan kuliner dan mencium aroma sate yang sedang dibakar, sulit rasanya untuk tidak berhenti.

Bagi traveler, pengalaman seperti inilah yang sering kali tidak bisa didapatkan dari restoran biasa.

Karena street food bukan hanya tentang rasa.

Tetapi juga tentang suasana.

5. Xiao Long Bao – Shanghai, China

Shanghai dikenal sebagai salah satu kota dengan kekayaan kuliner yang luar biasa.

Salah satu makanan yang banyak diburu traveler adalah xiao long bao.

Pangsit kukus dengan isian daging dan kuah di dalamnya ini membutuhkan cara makan yang tepat.

Digigit terlalu cepat bisa membuat kuah panas langsung keluar.

Karena itu, traveler biasanya perlu sedikit berhati-hati saat mencicipinya.

Menikmati xiao long bao langsung di Shanghai memberikan pengalaman tersendiri.

Apalagi ketika melihat proses pembuatannya.

Adonan dibuat.

Isian dimasukkan.

Kemudian dikukus hingga matang.

Sederhana, tetapi membuat penasaran.

6. Gimbap – Korea Selatan

Korea Selatan memiliki banyak pilihan street food.

Namun, gimbap menjadi salah satu makanan yang mudah ditemukan dan praktis untuk dinikmati.

Nasi dan berbagai isian dibungkus dengan rumput laut, kemudian dipotong menjadi beberapa bagian.

Gimbap cocok dinikmati saat perjalanan.

Bisa menjadi sarapan.

Bekal.

Atau camilan di tengah perjalanan menjelajahi kota.

Kamu bisa menemukannya di pasar, stasiun, minimarket, maupun berbagai tempat makan lokal.

Bagi traveler, makanan seperti ini sangat praktis.

Tidak perlu menghabiskan waktu lama.

Cukup beli, lalu lanjut menjelajah.

7. Simit – Turki

Kalau kamu berkunjung ke Istanbul, mungkin akan sering melihat pedagang yang menjual simit.

Roti berbentuk cincin dengan taburan wijen ini menjadi salah satu makanan yang identik dengan kehidupan sehari-hari di Turki.

Simit bisa dinikmati dengan berbagai pendamping.

Keju.

Selai.

Teh Turki.

Atau dimakan begitu saja.

Yang menarik adalah cara menikmatinya.

Bayangkan berjalan di sekitar Istanbul sambil memegang simit hangat dan menikmati pemandangan kota.

Sederhana.

Tidak mahal.

Namun justru terasa autentik.

Dan mungkin, pengalaman seperti inilah yang paling sering diingat traveler setelah pulang.

Kenapa Traveler Rela Memburu Street Food?

Ada alasan mengapa street food memiliki daya tarik yang berbeda.

Pertama, harganya biasanya lebih terjangkau dibandingkan restoran.

Kedua, makanan dibuat langsung di depan kita.

Ketiga, kita bisa melihat kehidupan lokal dari dekat.

Dan yang paling penting:

street food memberikan pengalaman yang terasa autentik.

Ketika makan di restoran mewah, kita mungkin mendapatkan pelayanan terbaik.

Namun ketika makan di pinggir jalan, kita bisa merasakan bagaimana masyarakat lokal menikmati makanan sehari-hari.

Kita melihat aktivitas mereka.

Mendengar percakapan.

Mencium aroma masakan.

Dan merasakan suasana kota secara langsung.

Itulah mengapa street food sering menjadi bagian penting dari perjalanan.

Kuliner Bisa Menjadi Alasan untuk Datang Kembali

Ada traveler yang kembali ke sebuah negara karena pemandangannya.

Ada yang kembali karena budayanya.

Ada juga yang kembali hanya karena satu makanan.

Mungkin ada satu mangkuk ramen yang belum terlupakan.

Satu porsi Pad Thai yang rasanya berbeda dari yang pernah dicoba.

Atau satu bánh mì sederhana yang justru menjadi makanan favorit selama perjalanan.

Makanan memiliki kekuatan untuk mengikat kenangan.

Ketika mencicipi rasa yang sama beberapa tahun kemudian, kita bisa kembali mengingat sebuah perjalanan.

Di mana kita berada.

Dengan siapa kita pergi.

Dan bagaimana suasana saat itu.

Karena itu, kuliner bukan hanya bagian dari traveling.

Kuliner adalah bagian dari cerita perjalanan.

Jangan Hanya Mengejar Tempat Wisata

Saat menyusun itinerary, jangan hanya memasukkan nama-nama tempat wisata.

Sisakan ruang untuk berburu makanan.

Cari pasar lokal.

Tanyakan rekomendasi kepada orang sekitar.

Coba makanan yang belum pernah kamu kenal.

Dan jangan takut berhenti di kedai kecil yang terlihat sederhana.

Karena terkadang, pengalaman terbaik justru tidak datang dari restoran yang ada di daftar rekomendasi wisatawan.

Melainkan dari sebuah gerobak kecil di pinggir jalan.

Tempat yang mungkin tidak terlihat istimewa.

Tetapi menyajikan makanan yang membuat kamu berpikir:

"Untung tadi saya berhenti di sini."

Pada akhirnya, traveling bukan hanya tentang tempat yang kita lihat.

Tetapi juga tentang rasa yang kita bawa pulang.

Dan mungkin, setelah perjalanan selesai, foto-foto akan tersimpan di galeri.

Cerita akan tersimpan dalam ingatan.

Tetapi satu rasa dari street food yang pernah kita nikmati bisa membuat kita tiba-tiba ingin kembali.

Karena ada kuliner yang tidak cukup hanya dicoba sekali. Kita harus datang langsung ke tempat asalnya untuk benar-benar memahami kenapa dunia rela memburunya.

[artikel lainnya]
hubungi kami!