Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai menyadari bahwa waktu ternyata berjalan jauh lebih cepat dari yang kita kira.
Dulu rasanya umur 30 masih jauh.
Tiba-tiba…
Sudah 25.
Kemudian 27.
Lalu mulai berpikir,
“Sebelum 30, sebenarnya aku sudah melakukan apa saja?”
Bukan berarti usia 30 adalah batas untuk menikmati hidup.
Sama sekali bukan.
Tetapi sebelum tanggung jawab semakin banyak, sebelum waktu semakin sulit dicari, dan sebelum kita terlalu sering berkata “nanti saja”, ada beberapa pengalaman yang mungkin layak dimasukkan ke dalam bucket list.
Bukan karena destinasi ini wajib dikunjungi semua orang.
Tetapi karena masing-masing menawarkan pengalaman yang bisa membuat kita melihat dunia dari perspektif berbeda.
Berikut beberapa destinasi yang layak kamu pertimbangkan.
1. Jepang — Untuk Merasakan Dunia yang Berbeda
Kalau belum pernah ke Jepang, negara ini layak masuk bucket list.
Bukan cuma karena Tokyo yang modern atau Kyoto yang penuh sejarah.
Jepang menawarkan kombinasi yang menarik antara teknologi, budaya tradisional, kuliner, alam, dan kehidupan masyarakat yang sangat berbeda dari Indonesia.
Di Kyoto misalnya, tradisi yang sudah berkembang selama lebih dari 1.200 tahun masih terasa dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari arsitektur tradisional, festival, makanan, hingga budaya teh.
Sementara Tokyo memberikan pengalaman yang benar-benar berbeda: kota metropolitan yang sibuk tetapi masih memiliki ruang untuk kuil, taman, dan budaya tradisional.
Pengalaman yang wajib dicoba:
Naik Shinkansen.
Mencoba kuliner lokal.
Mengunjungi kuil dan kawasan tradisional.
Menikmati onsen.
Dan kalau waktunya tepat…
melihat sakura atau autumn foliage secara langsung.
Karena ada pemandangan yang memang terasa berbeda ketika dilihat langsung dibandingkan dari layar HP.
2. Swiss — Untuk Melihat Pegunungan yang Selama Ini Cuma Ada di Wallpaper
Pernah punya wallpaper laptop berupa pegunungan dengan desa kecil dan danau berwarna biru?
Bisa jadi itu Swiss.
Interlaken misalnya, menjadi salah satu basis populer untuk menikmati kawasan Bernese Oberland, dengan danau, desa pegunungan, Pegunungan Alpen, dan berbagai perjalanan menggunakan kereta maupun mountain railway.
Atau Zermatt, desa pegunungan yang terkenal dengan Matterhorn dan suasana yang sangat khas.
Menariknya, Zermatt merupakan kawasan bebas mobil dan memiliki berbagai pilihan pengalaman mulai dari Gornergrat hingga panorama pegunungan.
Bayangkan bangun pagi.
Membuka tirai.
Dan yang terlihat bukan gedung sebelah rumah…
Tetapi pegunungan Alpen.
Itu pengalaman yang layak diperjuangkan.
3. New Zealand — Untuk Petualangan yang Benar-Benar Berbeda
Kalau usia muda identik dengan rasa penasaran dan keinginan mencoba hal baru, New Zealand cocok masuk daftar.
Negara ini menawarkan alam yang luar biasa beragam.
Danau.
Pegunungan.
Glacier.
Hutan.
Fiord.
Sampai aktivitas adventure.
Salah satu ikon utamanya adalah Milford Sound / Piopiotahi, kawasan fiord spektakuler dengan pegunungan tinggi, air terjun, dan kehidupan liar. Tempat ini bisa dinikmati melalui cruise, kayaking, scenic flight, atau berbagai jalur jalan kaki.
Bahkan Tourism New Zealand memiliki itinerary 3 hari dari Queenstown menuju Te Anau dan Milford Sound.
Kalau selama ini hidup terasa terlalu monoton…
Mungkin kamu memang butuh sedikit petualangan.
Bukan untuk kabur dari hidup, tetapi untuk mengingat bahwa hidup ternyata luas sekali.
4. Turki — Untuk Menyaksikan Pertemuan Dua Dunia
Ada destinasi yang membuatmu merasa sedang berada di Eropa.
Lalu beberapa menit kemudian…
Kamu seperti masuk ke dunia Timur Tengah.
Türkiye adalah salah satunya.
Istanbul menawarkan perpaduan sejarah, budaya, arsitektur, kuliner, dan kehidupan kota yang sangat khas.
Kamu bisa melihat masjid bersejarah, berjalan di kawasan bazaar, menikmati teh Turki, mencicipi makanan lokal, lalu melihat sisi modern kota dalam perjalanan yang sama.
Dan tentu saja, ada Cappadocia.
Naik balon udara saat matahari terbit mungkin termasuk salah satu pengalaman yang bisa masuk bucket list sebelum 30.
Bukan karena harus dilakukan sebelum usia tertentu.
Tetapi karena terkadang kita perlu punya satu pengalaman yang ketika mengingatnya bertahun-tahun kemudian masih membuat kita tersenyum.
5. Korea Selatan — Untuk Menikmati Budaya Pop dan Tradisi Sekaligus
Kalau kamu tumbuh bersama drama Korea, K-pop, atau konten tentang Seoul, mungkin Korea Selatan sudah lama ada di wishlist.
Tetapi datang langsung akan memberikan pengalaman yang berbeda.
Kamu bisa melihat kawasan modern Seoul.
Kemudian beberapa langkah kemudian menemukan istana dan lingkungan tradisional.
Bisa berburu kuliner.
Belanja.
Mengunjungi kafe.
Mencoba hanbok.
Dan menikmati suasana kota saat malam.
Yang menarik dari Korea adalah pertemuan antara budaya lama dan kehidupan modernnya.
Jadi perjalanan ke Korea bukan cuma soal foto di spot viral.
Tetapi melihat bagaimana sebuah negara mempertahankan identitas budayanya sambil terus bergerak maju.
6. Thailand — Untuk Belajar Menikmati Hidup dengan Cara yang Lebih Santai
Thailand mungkin terlihat seperti destinasi yang sederhana.
Tetapi justru di situlah menariknya.
Bangkok menawarkan street food, pasar malam, kuil, shopping, dan kehidupan kota yang ramai.
Sementara destinasi seperti Phuket, Krabi, atau pulau-pulau di selatan Thailand menawarkan sisi yang jauh lebih santai.
Kamu bisa makan enak tanpa harus selalu masuk restoran mahal.
Duduk di pinggir pantai.
Menikmati sunset.
Berjalan tanpa itinerary terlalu padat.
Dan mungkin menyadari satu hal:
Ternyata liburan tidak harus selalu produktif.
Kadang kita hanya perlu menikmati hari tanpa mengejar apa-apa.
7. Eropa — Untuk Merasakan Seperti Apa Dunia yang Selama Ini Hanya Kamu Lihat di Film
Kalau belum pernah ke Eropa, sekali dalam hidup mungkin layak memasukkannya ke bucket list.
Tidak harus langsung keliling belasan negara.
Pilih beberapa kota.
Nikmati dengan perlahan.
Paris untuk suasana romantis.
Amsterdam untuk kanal dan budaya bersepeda.
Swiss untuk Alpen.
Italia untuk sejarah dan kuliner.
Austria untuk kota-kota klasik.
Prancis untuk desa-desa cantik.
Setiap negara memberikan karakter yang berbeda.
Dan yang paling menarik adalah ketika akhirnya kamu berdiri di tempat yang selama ini hanya kamu lihat di film, buku, atau media sosial.
Ada momen ketika kamu mungkin berpikir:
“Akhirnya sampai juga.”
Dan ternyata…
Perasaan itu sendiri sudah menjadi bagian dari perjalanan.
Tapi Sebenarnya, Apa yang Harus Dikejar Sebelum 30?
Bukan jumlah negara.
Bukan jumlah stempel paspor.
Bukan berapa banyak foto yang bisa diunggah.
Dan bukan juga siapa yang paling jauh traveling.
Yang sebaiknya dikejar adalah pengalaman.
Pernah melihat salju.
Pernah melihat sunrise di tempat yang jauh.
Pernah tersesat lalu menemukan tempat menarik.
Pernah makan makanan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Pernah ngobrol dengan orang dari budaya berbeda.
Pernah melakukan sesuatu yang awalnya terasa menakutkan.
Karena pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan kesempatan itu menjadi lebih sulit.
Jangan Menunggu “Nanti”
Ada satu kalimat yang sering kita ucapkan:
“Nanti kalau sudah punya uang.”
“Nanti kalau sudah punya waktu.”
“Nanti kalau pekerjaan sudah lebih santai.”
“Nanti kalau sudah mapan.”
Masalahnya…
“Nanti” tidak pernah punya tanggal pasti.
Bukan berarti kita harus menghabiskan uang untuk traveling tanpa perencanaan.
Justru sebaliknya.
Buat target.
Sisihkan uang.
Pilih destinasi.
Tentukan waktunya.
Lalu wujudkan satu per satu.
Karena usia 30 bukan akhir dari petualangan.
Bahkan setelah 30, 40, 50, atau 60 pun kita masih bisa pergi ke mana saja.
Tetapi kalau ada satu hal yang mungkin perlu dilakukan sebelum usia semakin bertambah…
Berhenti sebentar dari rutinitas dan melihat dunia dengan mata sendiri.
Karena suatu hari nanti, mungkin yang paling kita sesali bukan uang yang pernah kita keluarkan untuk traveling.
Tetapi tempat-tempat yang dulu ingin kita datangi…
namun selalu kita tunda.